Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan
Dengue
Hemoragic Fever (DHF)
Dengue adalah penyakit virus didaerah tropis
yang ditularkan oleh nyamuk dan ditandai dengan demam, nyeri kepala, nyeri pada
tungkai, dan ruam (Brooker, 2001). Demam dengue/dengue fever adalah penyakit
yang terutama pada anak, remaja, atau orang dewasa, dengan tanda-tanda klinis
demam, nyeri otot, atau sendi yang disertai leukopenia, dengan/tanpa ruam
(rash) dan limfadenophati, demam bifasik, sakit kepala yang hebat, nyeri pada
pergerakkan bola mata, rasa menyecap yang terganggu, trombositopenia ringan,
dan bintik-bintik perdarahan (ptekie) spontan (Noer, dkk, 1999).
Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti (Suriadi & Yuliani, 2001).
A.
Definisi
DHF atau
dikenal dengan istilah demam berdarah adalah penyakit yang disebabkan oleh
Arbovirus ( arthro podborn virus ) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes
(Aedes Albopictus dan Aedes Aegepty).
Menurut beberapa ahli pengertian DHF sebagai berikut:
- Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegepty (Christantie Efendy,1995 ).
- Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegepty (betina) (Seoparman , 1990).
- DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegepty dan beberapa nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat menyebar secara efidemik. (Sir,Patrick manson,2001).
- Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegepty (Seoparman, 1996).
B.
Etiologi
Penyebab DHF adalah Arbovirus (
Arthropodborn Virus ) melalui gigitan nyamuk Aedes ( Aedes Albopictus dan Aedes
Aegepty ).
Virus dengue tergolong dalam famili/suku/grup
flaviviridae dan dikenal ada 4 serotipe. Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian
ketika berlangsungnya perang dunia ke-II, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan
pada saat wabah di Filipina tahun 1953 – 1954. Virus dengue berbentuk batang,
bersifat termolabil, sensitif terhadap inaktivasi oleh dietileter dan natrium
dioksikolat, stabil pada suhu 70 0C. Dengue merupakan serotipe
yang paling banyak beredar.
C.
Patofisiologi
Virus dengue masuk kedalam tubuh melalui gigitan
nyamuk aedes aegypti dan kemudian bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah
kompleks virus-antibody, dalam asirkulasi akan mengaktivasi sistem komplemen
(Suriadi & Yuliani, 2001).
Virus yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes
aegypty. Pertama-tama yang terjadi adalah viremia yang mengakibatkan penderita
mengalami demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal diseluruh
tubuh, ruam atau bintik-bintik merah pada kulit (petekie), hyperemia
tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah
bening, pembesaran hati (Hepatomegali) dan pembesaran limpa (Splenomegali).
Kemudian virus akan bereaksi dengan antibody dan
terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system
komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang
berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor
meningkatnya permeabilitas dinding kapiler pembuluh darah yang mengakibatkan
terjadinya perembesan plasma ke ruang ekstra seluler.
Perembesan plasma ke ruang ekstra seluler mengakibatkan
berkurangnya volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi, dan
hipoproteinemia serta efusi dan renjatan (syok). Hemokonsentrasi (peningkatan
hematokrit > 20 %) menunjukkan atau menggambarkan adanya kebocoran
(perembesan) plasma sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan
pemberian cairan intravena. Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi
trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan
faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran
gastrointestinal pada DHF.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler dibuktikan
dengan ditemukannya cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga
peritoneum, pleura, dan pericard yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang
diberikan melalui infus.
Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlah
trombosit menunjukkan kebocoran plasma telah teratasi, sehingga pemberian
cairan intravena harus dikurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah
terjadinya edema paru dan gagal jantung, sebaliknya jika tidak mendapatkan cairan yang cukup,
penderita akan mengalami kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan kondisi
yang buruk bahkan bisa mengalami renjatan.
Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul
anoksia jaringan, metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi
dengan baik. Gangguan hemostasis pada DHF menyangkut 3 faktor yaitu : perubahan
vaskuler, trombositopenia dan gangguan koagulasi.
Pada otopsi penderita DHF, ditemukan tanda-tanda perdarahan hampir di seluruh tubuh, seperti di kulit, paru, saluran pencernaan dan jaringan adrenal.
Pada otopsi penderita DHF, ditemukan tanda-tanda perdarahan hampir di seluruh tubuh, seperti di kulit, paru, saluran pencernaan dan jaringan adrenal.
D.
Pathways
E.
Tanda dan
Gejala DHF
Tanda
dan gejala penyakit DHF adalah :
v
Nyeri pada otot seluruh tubuh
v
Nyeri kepala menyeluruh atau
berpusat pada supra orbita, retroorbita
v
Suara serak
v
Batuk
v
Epistaksis
v
Nafsu makan menurun
v
Muntah
v
Ptekie
v
Ekimosis
v
Perdarahan gusi
v
Muntah darah
v
Hematuria massif
v
Melena
F.
Klasifikasi
DHF menurut WHO
a)
Derajat I
Demam disertai gejala tidak khas, terdapat manifestasi
perdarahan ( uji tourniquet positif )
b)
Derajat II
Derajat I ditambah gejala perdarahan spontan dikulit dan
perdarahan lain.
c)
Derajat
III
Kegagalan sirkulasi darah, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun ( 20 mmhg,
kulit dingin, lembab, gelisah, hipotensi )
d)
Derajat IV
Nadi tak teraba, tekanan darah tak dapat diukur
G.
Pemeriksaan Diagnostik
1.
Darah Lengkap = Hemokonsentrasi (
Hemaokrit meningkat 20 % atau lebih) Thrombocitopeni ( 100. 000/ mm3 atau
kurang )
2.
Serologi = Uji HI ( hemaaglutinaion
Inhibition Test )
3.
Rontgen Thorac = Effusi Pleura
H. Penatalaksanaan
q Medik
1)
DHF tanpa Renjatan
Ø
Beri minum banyak ( 1 ½ – 2 Liter /
hari )
Ø
Jika kejang maka dapat diberi
luminal ( antionvulsan ) untuk anak <1th dosis 50 mg Im dan untuk anak
>1th 75 mg Im. Jika 15 menit kejang belum teratasi , beri lagi luminal
dengan dosis 3mg / kb BB ( anak <1th dan pada anak >1th diberikan 5 mg/
kg BB.
Ø
Berikan infus jika terus muntah dan
hematokrit meningkat
2)
DHF dengan Renjatan
Ø
Pasang infus RL
Ø
Jika dengan infus tidak ada respon
maka berikan plasma expander ( 20 – 30 ml/ kg BB )
Ø
Tranfusi jika Hb dan Ht turun
q Keperawatan
Ø
Pemeriksaan Hb, Ht, Trombocyt tiap 4
Jam
Ø
Observasi intik output
Ø
Pada pasienDHF derajat I : Pasien
diistirahatkan, observasi tanda
vital tiap 3 jam ,
periksa Hb, Ht, Thrombosit tiap 4 jam beri minum 1 ½ liter – 2 liter per hari,
beri kompres
Ø
Pada pasien DHF derajat II :
pengawasan tanda vital, pemeriksaan Hb, Ht, Thrombocyt, perhatikan gejala
seperti nadi lemah, kecil dan cepat, tekanan darah menurun, anuria dan sakit
perut, beri infus.
Ø
Pada pasien DHF derajat III : Infus guyur,
posisi semi fowler, beri o2 pengawasan tanda – tanda vital tiap 15 menit,
pasang cateter, obsrvasi productie urin tiap jam, periksa Hb, Ht dan
thrombocyt.
2.
Resiko Perdarahan
Ø
Obsevasi perdarahan : Pteckie,
Epistaksis, Hematomesis dan melena
Ø
Catat banyak, warna dari perdarahan
Ø
Pasang NGT pada pasien dengan
perdarahan tractus Gastro Intestinal
3.
Peningkatan suhu tubuh
Ø
Observasi / Ukur suhu tubuh secara periodic
Ø
Beri minum banyak
I.
Pencegahan
q
Prinsip yang tepat dalam
pencegahan DHF ialah sebagai berikut :
a. Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat
pengaruh alamiah dengan melaksanakan pemberantasan vektor pada saat sedikit
terdapatnya kasus DHF.
b. Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan
kepadatan vektor pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita
viremia sembuh secara spontan.
c. Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat
daerah penyebaran yaitu di sekolah, rumah sakit termasuk pula daerah penyangga
sekitarnya.
d. Mengusahakan pemberantasan vektor di semua
daerah berpotensi penularan tinggi.
q
Ada 2 macam
pemberantasan vektor antara lain :
a. Menggunakan insektisida. Yang lazim digunakan
dalam program pemberantasan demam berdarah dengue adalah malathion untuk
membunuh nyamuk dewasa dan temephos (abate) untuk membunuh jentik (larvasida).
Cara penggunaan malathion ialah dengan pengasapan atau pengabutan. Cara
penggunaan temephos (abate) ialah dengan pasir abate ke dalam sarang-sarang
nyamuk aedes yaitu bejana tempat penampungan air bersih, dosis yang digunakan
ialah 1 ppm atau 1 gram abate SG 1 % per 10 liter air.
b. Tanpa insektisida Caranya adalah :
1)
Menguras bak mandi,
tempayan dan tempat penampungan air minimal 1 x seminggu (perkembangan telur
nyamuk lamanya 7–10 hari).
2)
Menutup tempat
penampungan air rapat-rapat.
3)
Membersihkan halaman
rumah dari kaleng bekas, botol pecah dan benda lain yang memungkinkan nyamuk
bersarang.
MANAJEMEN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1) Identitas
DHF merupakan penyakit
daerah tropis yang sering menyebabkan kematian anak, remaja dan dewasa
(Effendy, 1995).
2) Keluhan Utama
Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah,
nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan menurun.
3) Riwayat penyakit sekarang
Riwayat kesehatan
menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh tubuh, sakit pada
waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan menurun.
4) Riwayat penyakit terdahulu
Tidak ada penyakit yang diderita secara
specific.
5) Riwayat penyakit keluarga
Riwayat adanya penyakit
DHF pada anggota keluarga yang lain sangat menentukan, karena penyakit DHF
adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty.
6) Riwayat Kesehatan Lingkungan
Biasanya lingkungan
kurang bersih, banyak genangan air bersih seperti kaleng bekas, ban bekas,
tempat air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang
dibersihkan.
7) Riwayat Tumbuh Kembang
8) Pengkajian Per Sistem :
·
Sistem Pernapasan yaitu
Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epistaksis, pergerakan
dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, krakles.
·
Sistem Persyarafan yaitu
Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade
IV dapat trjadi DSS
·
Sistem Cardiovaskuler
yaitu Pada grde I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif,
trombositipeni, pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat,
lemah, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, pada grade IV
nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.
·
Sistem Pencernaan yaitu
Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik,
pembesarn limpa, pembesaran hati, abdomen teregang, penurunan nafsu makan,
mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat hematemesis, melena.
·
Sistem perkemihan yaitu
Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan nyeri
sat kencing, kencing berwarna merah.
·
Sistem Integumen. Yaitu
Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat positif
pada uji tourniquet, terjadi pethike, pada grade III dapat terjadi perdarahan
spontan pada kulit.
B. Diagnosa
Keperawatan
1. Hipertermie berhubungan dengan proses infeksi
virus dengue.
2. Resiko defisit cairan berhubungan dengan
pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
3. Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan
perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
4. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak
adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.
5. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan
penurunan factor-faktor pembekuan darah (trombositopeni).
6. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi
anak.
7. Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit,
prognosis, efek prosedur, dan perawatan anggota keluarga yang sakit berhubungan
dengan kurang terpajan/mengingat informasi
C.
Rencana Asuhan Keperawatan.
DX
1 : Hipertermie
berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
Tujuan : Suhu
tubuh normal
Kriteria : Suhu tubuh antara 36 – 37, Nyeri otot hilang
Intervensi :
1.
Kaji suhu tubuh pasien
Rasional : mengetahui peningkatan suhu tubuh,
memudahkan intervensi
2.
Beri kompres air hangat
Rasional : mengurangi
panas dengan pemindahan panas secara konduksi. Air hangat mengontrol pemindahan
panas secara perlahan tanpa menyebabkan hipotermi atau menggigil.
3.
Berikan/anjurkan pasien
untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari (sesuai toleransi)
Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang
hilang akibat evaporasi.
4.
Anjurkan pasien untuk
menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat
Rasional : Memberikan
rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang
peningkatan suhu tubuh.
5.
Observasi intake dan
output, tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah) tiap 3 jam sekali atau sesuai
indikasi
Rasional : Mendeteksi
dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit
dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
Kolaborasi : Berikan
cairan intravena dan pemberian obat sesuai program.
Rasional : Pemberian
cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat khususnya
untuk menurunkan panas tubuh pasien.
DP 2 : Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan
pindahnya cairan intravaskuler ke
ekstravaskuler.
ekstravaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi defisit voume cairan
Kriteria : Input dan output seimbang, Vital sign dalam batas
normal, Tidak ada tanda presyok, Akral hangat, Capilarry refill
Intervensi :
1. Awasi vital sign tiap 3 jam/sesuai indikasi
Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan
intravaskuler
2. Observasi capillary Refill
Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi
perifer
3.
Observasi intake dan
output. Catat warna urine / konsentrasi, BJ
Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan
peningkatan BJ diduga dehidrasi.
4.
Anjurkan untuk minum
1500-2000 ml /hari ( sesuai toleransi )
Rasional : Untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh
peroral
Kolaborasi : Berikan cairan intravena
Rasional : Dapat
meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok.
DP 3 : Resiko Syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan
yang berlebihan, pindahnya cairan
intravaskuler ke ekstravaskuler.
intravaskuler ke ekstravaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik
Kriteria : Tanda Vital dalam batas normal
Intervensi :
1. Monitor keadaan umum pasien
Rasional : Untuk
memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terdi perdarahan.
Perawat segera mengetahui tanda-tanda presyok /syok.
2. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih
Rasional : Perawat perlu
terus mengobaservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi presyok / syok.
3. Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda
perdarahan, dan segera laporkan jika terjadi perdarahan
Rasional : Dengan
melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat segera
diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan.
Kolaborasi :
·
Pemberian cairan
intravena
Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk
mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat.
·
pemeriksaan : HB, PCV,
trombosit
Rasional : Untuk
mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk acuan
melakukan tindakan lebih lanjut.
DP 4 : Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.
dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.
Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi
Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi, Menunjukkan berat
badan yang seimbang.
Intervensi :
1. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai
Rasional :
Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi
2. Observasi dan catat masukan makanan pasien
Rasional : Mengawasi
masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan
3. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan)
Rasional : Mengawasi
penurunan BB / mengawasi efektifitas intervensi.
4. Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara
waktu makan
Rasional : Makanan
sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga
mencegah distensi gaster.
mencegah distensi gaster.
5. Berikan dan Bantu oral hygiene.
Rasional : Meningkatkan
nafsu makan dan masukan peroral
6. Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas.
Rasional : Menurunkan
distensi dan iritasi gaster.
DP 5 : Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan
factor faktor pembekuan darah
(trombositopeni)
(trombositopeni)
Tujuan : Tidak terjadi perdarahan
Kriteria : TD 100/60 mmHg, N: 80-100x/menit reguler, pulsasi kuat,
Tidak ada tanda perdarahan lebih lanjut, trombosit meningkat.
Intervensi :
1. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda
klinis.
Rasional : Penurunan
trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada
tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti epistaksis, ptike.
tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti epistaksis, ptike.
2. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat ( bedrest )
Rasional : Aktifitas
pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.
3. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga untuk melaporkan
jika ada tanda perdarahan seperti
: hematemesis, melena, epistaksis.
: hematemesis, melena, epistaksis.
Rasional : Keterlibatan
pasien dan keluarga dapat membantu untuk penaganan dini bila terjadi
perdarahan.
perdarahan.
4. Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak,
pelihara kebersihan mulut, berikan
tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah.
tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah.
Rasional : Mencegah
terjadinya perdarahan lebih lanjut.
5. Kolaborasi, monitor trombosit setiap hari
Rasional : Dengan
trombosit yang dipantau setiap hari, dapat diketahui tingkat kebocoran
pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami pasien.
pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami pasien.
D. Evaluasi
1) Suhu tubuh normal
2) Tidak terjadi devisit voume cairan
3) Tidak terjadi syok hipovolemik
4) Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi
5) Tidak terjadi perdarahan
6) Ansietas berkurang/terkontrol
7) Orang tua memahami tentang kondisi, efek
prosedur dan proses pengobatan.
Kesimpulan
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang
disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk
kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegepty (Christantie
Efendy,1995 ).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat
pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa
ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh
penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegepty (betina) (Seoparman , 1990).
Pesan Dan Saran
1. Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat
pengaruh alamiah dengan melaksanakan pemberantasan vektor pada saat sedikit
terdapatnya kasus DHF.
2. Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan
kepadatan vektor pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan
penderita viremia sembuh secara spontan.
3. Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat
daerah penyebaran yaitu di sekolah, rumah sakit termasuk pula daerah penyangga
sekitarnya.
4. Mengusahakan pemberantasan vektor di semua
daerah berpotensi penularan
5. Prinsip 3 M :
·
Menguras bak mandi,
tempayan dan tempat penampungan air minimal 1 x seminggu (perkembangan telur
nyamuk lamanya 7 – 10 hari).
·
Menutup tempat
penampungan air rapat-rapat.
·
Membersihkan halaman
rumah dari kaleng bekas, botol pecah dan benda lain yang memungkinkan nyamuk
bersarang.
6.
Diperlukan tindakan yang
bersifat preventif melalui pemakaian kasa dan menghindari kebiasaan mengantung
pakaian yang biasanya dijadikan sebagai tempat peristirahatan nyamuk.
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, Aziz Alimul A. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak
jilid.2. Salemba Medika : Jakarta
Nasrul, Effendi. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC : Jakarta
Noer, Sjaifoellah dkk. 1998. Standar Perawatan Pasien. Monica
Ester : Jakarta.
Buku
ajar IKA infeksi dan penyakit tropis IDAI Edisi I. Editor : Sumarmo, S Purwo
Sudomo, Harry Gama, Sri rejeki Bag IKA FKUI jkt 2002.
Christantie,
Effendy. SKp, Perawatan Pasien DHF. Jakarta, EGC, 1995
Prinsip
– Prinsip Keperawatan Nancy Roper hal 269 – 267

Tidak ada komentar:
Posting Komentar